Dakwah adalah perjuangan yang memerlukan ketegaran dan ketabahan. Meski
Rasulullah Saw menghadapi berbagai tantangan, khususnya dari pembesar
kabilah-kabilah di Jazirah Arab, namun semuanya beliau lalui dengan
sabar dan konsisten. Refleksi atas perjuangan Rasulullah Saw, khususnya
ketika menghadapi berbagai tantangan dari pembesar-pembesar jazirah
Arab, sangat relevan dengan konteks saat ini ketika bangsa kita
dirundung berbagai bencana yang, salah satunya, diakibatkan ulah para
pembesar negeri ini. para pembesar negeri ini selain telah memberi
kontribusi terhadap carut-marut tatanan berbangsa dan bernegara, juga
menjadi bagian tantangan tersendiri bagi para dai.
Tantangan Dakwah
Para ahli sejarah membagi periode dakwah Nabi Muhammad Saw ke dalam dua periode: Makkah dan Madinah. Periode Makkah dapat dikatakan sebagai periode yang penuh dengan tantangan dan cobaan, dari cacian hingga usaha pembunuhan. Sementara itu, dakwah di Madinah lebih kondusif, karena masyarakatnya lebih beradab.
Para ahli sejarah membagi periode dakwah Nabi Muhammad Saw ke dalam dua periode: Makkah dan Madinah. Periode Makkah dapat dikatakan sebagai periode yang penuh dengan tantangan dan cobaan, dari cacian hingga usaha pembunuhan. Sementara itu, dakwah di Madinah lebih kondusif, karena masyarakatnya lebih beradab.
Di Makkah, reaksi-reaksi keras yang menentang dakwah Nabi Saw
bermunculan. Namun, usaha-usaha dakwahnya tetap dilanjutkan terus tanpa
mengenal lelah, sehingga hasilnya mulai nyata. Jumlah pengikut Nabi Saw
yang tadinya hanya belasan orang, makin hari makin bertambah. Hampir
setiap hari ada yang menggabungkan diri ke dalam barisan pemeluk Islam.
Mereka terutama terdiri dari kaum wanita, kaum budak, pekerja, dan
orang-orang miskin serta lemah. Meskipun kebanyakan dari mereka adalah
orang-orang yang lemah, namun semangat yang mendorong mereka beriman
sangat membaja.
Tantangan yang paling keras terhadap dakwah Nabi Saw datang dari para
penguasa dan pengusaha Mekah, kaum feodal, dan para pemilik budak.
Mereka ingin mempertahankan tradisi lama. Mereka khawatir jika struktur
masyarakat dan kepentingan-kepentingan dagang mereka akan goyah oleh
ajaran Nabi Muhammad Saw yang menekankan keadilan sosial dan persamaan
derajat. Mereka menyusun siasat untuk dapat melepaskan hubungan antara
Abi Talib dan Nabi Muhammad Saw. Mereka meminta agar Abu Thalib memilih
satu di antara dua: memerintahkan Nabi Muhammad Saw agar berhenti
berdakwah atau menyerahkan kepada mereka. Abu Thalib terpengaruh
kemudian meminta agar Nabi Muhammad Saw menghentikan dakwahnya. Tapi
Nabi Muhammad Saw menolak sembari berkata, “Demi Allah saya tidak akan
berhenti memperjuangkan amanat Allah ini, walaupun seluruh anggota
keluarga dan sanak saudara akan mengucilkan saya.” Mendengar jawaban
kemenakannya itu, Abi Talib kemudian berkata, “Teruskanlah, demi Allah
aku akan terus membelamu.”
Gagal menghentikan dakwah Nabi Muhammad Saw dengan bujuk rayu, kaum
Quraiys mulai melakukan tindak kekerasan. Orang-orang dengan lemah dan
para budak yang memeluk Islam, bahkan Nabi Muhammad Saw sendiri, tidak
luput dari kekejaman mereka. Terutama para budak, mereka disiksa dengan
sangat kejam di luar perikemanusiaan oleh tuan-tuan mereka. Mereka
dipukul, dicambuk, dan tidak diberi makan dan minum. Ada yang
ditelentangkan di atas pasir yang panas dan di atas dadanya diletakkan
batu yang besar nan berat.
Mereka yang merdeka pun juga mendapat siksaan dari keluarga mereka yang
masih bertahan dalam agama nenek moyang. Setiap suku diminta menghukum
dan menyiksa anggota keluarganya yang masuk Islam sampai dia murtad
kembali. Usman bin Affan, misalnya, dikurung dalam kamar gelap dan
dipukuli sampai babak belur oleh anggota keluarganya sendiri.
Orang-orang yang tidak mempunyai pelindung yang disegani, seperti Abu
Bakar, mendapat tindakan yang lebih keras. Secara keseluruhan, sejak
saat itu umat Islam mendapat siksaan yang pedih dari kaum Quraiys Mekah.
Mereka dilempari kotoran, dihalangi untuk melakukan ibadah di Ka’bah,
dan lain sebagainya.
Berbagai usaha dilakukan orang-orang Quraiys untuk menghalangi hijrah
ke Habasyah ini, termasuk membujuk raja agar menolak kehadiran umat
Islam di sana. Namun, berbagai usaha itu gagal juga. Semakin kejam
mereka memperlakukan umat Islam, semakin bertambah jumlah yang memeluk
Islam. Bahkan di tengah meningkatnya kekejaman itu, dua orang kuat
Quraisy masuk Islam, yakni Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin
Khatab. Dengan masuk Islamnya dua orang yang dijuluki “Singa Arab” itu,
semakin kuatlah posisi umat Islam dan dakwah Muhammad Saw. pada waktu
itu. (Ensiklopedi Islam, 2001: 265-266)
Kedurhakaan Pembesar
Dalam Alquran, salah satu tantangan besar dalam dakwah adalah orang-orang kaya dan berpengaruh tetapi mereka durhaka. Mereka itulah yang disebut Alquran sebagai “mutrafin”, yang menyebabkan hancurnya suatu negeri. Perilaku kaum mutrafin dilukiskan dalam Alquran, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya, lalu mereka melakukan kedurhakaan di dalamnya, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan Kami, maka Kami hancurkan sehancur-hancurnya,”(QS Al-Isra [17]: 16).
Dalam Alquran, salah satu tantangan besar dalam dakwah adalah orang-orang kaya dan berpengaruh tetapi mereka durhaka. Mereka itulah yang disebut Alquran sebagai “mutrafin”, yang menyebabkan hancurnya suatu negeri. Perilaku kaum mutrafin dilukiskan dalam Alquran, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya, lalu mereka melakukan kedurhakaan di dalamnya, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan Kami, maka Kami hancurkan sehancur-hancurnya,”(QS Al-Isra [17]: 16).
Menurut Quraish Shihab, ayat tersebut menjelaskan salah satu sunatullah
yang berlaku untuk jatuhnya suatu siksa bagi kaum yang durhaka. Secara
tidak langsung ayat itu mengatakan: “Dan jika kami hendak membinasakan
suatu negeri yang durhaka, sesuai dengan ketetapan dan kebijaksanaan
Kami, maka Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya,
yakni di negeri itu supaya menaati Allah dan Rasul-Nya, tetapi mereka
enggan lalu mereka melakukan kedurhakaan yakni penganiayaan dan
perusakan di dalamnya yakni di negeri itu, maka sudah sepantasnya
berlaku terhadapnya perkataan yakni ketentuan Kami, maka Kami
menghancurkannya yakni penduduk negeri itu dan atau bersama negeri itu
sehancur-hancurnya sehingga mereka tidak bangkit lagi sebagai satu orde
atau sistem kemasyarakatan (Tafsir al-Misbah, Vol. 7, 2005: 432).
Tantangan terbesar dakwah adalah mereka yang berpengaruh di mata
masyarakat. Kelompok ini melecehkan dan berusaha menghambat dakwah, baik
langsung maupun tidak, bisa dilihat dari perbuatan atau kebijakannya
serta dampak dari perbuatan dan kebijakan tersebut. Dalam konteks
kekinian, tantangan dakwah terbesar adalah para penguasa dan para
pengusaha yang dengan kekuasaan dan kekuatan modal bisa dengan mudah
mengeksploitasi sumberdaya alam serta mempolitisasi rakyat untuk
kepentingan diri dan kelompoknya.
Sikap dan tindakan mereka memang tidak langsung menentang para dai atau mubalig dan menghambat kegiatan dakwah. Namun, dari sisi perilaku dan kebijakannya jauh dari nilai-nilai dakwah Islam yang diajarkan oleh para ulama. Dampak dari tindakannya itu pula dirasakan oleh masyarakat sangat merugikan.
Sikap dan tindakan mereka memang tidak langsung menentang para dai atau mubalig dan menghambat kegiatan dakwah. Namun, dari sisi perilaku dan kebijakannya jauh dari nilai-nilai dakwah Islam yang diajarkan oleh para ulama. Dampak dari tindakannya itu pula dirasakan oleh masyarakat sangat merugikan.
Tekad Berdakwah
Dalam menghadapi kelompok ini, para dai dituntut memiliki tekad yang kuat untuk berdakwah dan kerelaan berkurban, baik jiwa, raga, maupun harta dengan sampainya ajaran Islam sehingga mengubah tindakan yang menzalimi masyarakat. Selain itu, diperlukan figur dai yang mempunyai semangat jihad tinggi; berani berkata tidak dan mengkritik pemerintah serta siap menghadapi segala resiko di medan perjuangan dan konsisten menyampaikan kebenaran.
Jika kita telusuri sejarah umat-umat ter-dahulu, lahirnya penentang dakwah, baik kolektif maupun perorangan, bukanlah hal baru. Ini sudah menjadi bagian dari sejarah dakwah Islam dari masa ke masa. Dalam Alquran, kelompok ini disebut mutrafin. Yaitu mereka yang diberi nikmat, tetapi tidak bersyukur; mereka yang hidup dalam kemewahan, kekuasaan, kepintaran, tapi digunakan dalam kezaliman. Segala karunia yang diberikan-Nya, bukan digunakan dalam kebajikan, namun justru merugikan orang lain.
Dalam menghadapi kelompok ini, para dai dituntut memiliki tekad yang kuat untuk berdakwah dan kerelaan berkurban, baik jiwa, raga, maupun harta dengan sampainya ajaran Islam sehingga mengubah tindakan yang menzalimi masyarakat. Selain itu, diperlukan figur dai yang mempunyai semangat jihad tinggi; berani berkata tidak dan mengkritik pemerintah serta siap menghadapi segala resiko di medan perjuangan dan konsisten menyampaikan kebenaran.
Jika kita telusuri sejarah umat-umat ter-dahulu, lahirnya penentang dakwah, baik kolektif maupun perorangan, bukanlah hal baru. Ini sudah menjadi bagian dari sejarah dakwah Islam dari masa ke masa. Dalam Alquran, kelompok ini disebut mutrafin. Yaitu mereka yang diberi nikmat, tetapi tidak bersyukur; mereka yang hidup dalam kemewahan, kekuasaan, kepintaran, tapi digunakan dalam kezaliman. Segala karunia yang diberikan-Nya, bukan digunakan dalam kebajikan, namun justru merugikan orang lain.
Meski dakwah semarak, tetapi semangat pengamalan masih kurang
sungguh-sungguh. Banyaknya tindak kejahatan, khususnya yang dilakukan
oleh “santri-santri berdasi”, yang secara moral keagamaan merupakan
bentuk kezaliman, adalah di antara bukti nyata bahwa respon masyarakat
terhadap dakwah Islam selama ini baru sebatas pembelajaran. Belum banyak
menyentuh hati nurani umat sehingga berpengaruh terhadap prilaku
sehari-hari.
Wallahu’alambishawab.Sumber : www.cmm.or.id

0 komentar:
Posting Komentar